Minggu, 04 Oktober 2015
Doppelganger
Angin berembus di jalan damai memenuhi ruangan melalui kisi sempit dari jendela. Mentari mulai terbangun dari tidurnya dan berlanjut menyinari kehidupan di bumi. Hembusan dan cahaya itu menjadi alarm tersendiri bagi Nila untuk bangun dari mimpinya sepanjang malam. ‘’Ah..sudah pagi, terima kasih Tuhan’’ bersyukur dan merenggangkan tubuhnya. ‘’Lekas mandi dan ke sekolah, Nila!’’ panggil ibunya dari luar kamar. Nila bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Di meja makan Nila sudah dinantikan kehadirannya oleh ayah dan ibu. Nila sangat bahagia atas kehidupan yang dianugrahkan Tuhan kepadanya atas kehadiran orang tua yang menyayanginya.
Bel sekolah berdentang, pertanda bahwa siswa diharuskan memulai pelajaran. Nila adalah siswa berusia 17 tahun yang duduk di bangku SMA kelas XI. Disekolah Nila dikenal sebagai anak yang cerdas dan imajinatif, ia termasuk anak yang disenangi banyak orang karena kecerdasannya dalam pelajaran maupun sikapnya yang ramah. Nila juga memiliki seorang sahabat dekat, sahabat yang selalu menjadi tempat untuk sharing pengalaman dan pelajaran, ia adalah Suci. ‘’Hai, Nila, PR-mu sudah selesai?’’ sapanya dengan ceria. ‘’Tentu sudah,oh iya, pulang sekolah kita ke perpustakaan ya?’’. Jawab Suci dengan isyarat jempol sambil tersenyum.
Bel sekolah berdentang untuk sekian kalinya, menandakan bahwa jam sekolah telah usai. Suasana sekolah ramai dipenuhi siswa yang keluar dari kelas untuk pulang. Terkecuali dua siswa yang masih berada di perpustakaan sekolah. Mereka tidak lain adalah Nila dan Suci. Sambil menepuk bahu Nila ‘’aku ke arah sana ya?’’ sambil menunjuk lorong sebelah kanan yang dipenuhi rak-rak buku pelajaran. ‘’Iya, aku ke arah pengembangan diri.’’ Kata Nila seraya berlalu.
Tangan Nila menyusuri rak buku yang diikuti pandangannya satu per satu memandangi judul buku. Sampai akhirnya tangan Nila terhenti pada sebuah buku usang dan membaca judulnya dalam hati ‘’Doppelganger’’. Perlahan-lahan buku itu dikeluarkan dari raknya. Dibukanya halaman buku tersebut dan Nila mulai membacanya. ‘’Doppelganger berasal dari bahasa jerman, doppel(ganda) dan ganger(pejalan) secara harafiah dapat diartikan kembaran yang bergerak, dalam bahasa inggris disebut double walker…’’
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Derak pintu pagar dan suara klakson mobil memecah suasana sunyi rumah Nila, menandakan kepulangan sang ayah yang lebih cepat dari biasanya. Ketika pintu utama terbuka, tercium aroma masakan dari arah dapur, saat itu ibu sedang menyiapkan makan malam keluarga. ‘’Kenapa pulangnya lebih cepat?’’ tanya ibu yang tetap sibuk dengan masakannya. ‘’Iya bu, ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan setelah makan malam, berkaitan dengan pekerjaan ayah. Tolong buatkan kopi, Bu.’’ Kata ayah sambil tersenyum. Ayah Nila minum kopi sambil menikmati suasana teduh sore hari dan hembusan angin sejuk ditambah kemilau jingga matahari yang menyinari di horizon barat menambah kesempurnaan pemandangan yang tervisualisasi dari gazebo rumah.
‘’…manusia memiliki sisi gelap dan terang. Bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia dibumi. Menurut kepercayaan yahudi, setiap orang mempunyai malaikat berjalan yang mirip dan dapat menampakkan diri. Untuk berjumpa dengan mereka diperlukan fokus seperti laser, visualisasi pengindraan penuh dan keyakinan yang sangat besar…. Abraham Licoln dan Emilie Sagee adalah contoh orang-orang yang pernah melihat doppelgangernya…’’. ‘’Hei, Nila!’’ panggil Suci sambil menepuk bahu Nila. Nila tersentak dalam imajinasinya. ‘’Ayo pulang, sebentar lagi perpustakaan ditutup’’. ‘’Benarkah?’’ jawab Nila yang agak kaget karena tak menyadari waktu menunjuk hampir pukul 16.30.
Suasana makan malam terasa tenang, gemercing sendok dan piring terdengar beradu beresonansi dalam ruang makan. Suara ayah memecah dalam diam ‘’Ibu dan anakku tersayang adan yang mau ayah sampaikan’’. ‘’Ada apa ayah?’’ jawab Nila dan ibunya yang nyaris serentak. ‘’Maaf mendadak, ayah mendapatkan promosi karier dalam tugas dan selama satu bulan ayah akan ke India’’. ‘’Ayah harus berangkat besok jam 8 pagi.’’ ‘’Ha? Jam 8 pagi? Secepat itukah? Lagipula tidak biasanya ayah pergi jauh.’’ Sahut Nila dengan wajah murung. ‘’Sudah nak, semua itu juga untuk kepentingan karier ayah dan kepentingan keluarga juga’’ Ibu mencoba memberi pengertian.
Malam terasa cepat berlalu, namun Nila tak kunjung tidur, memikirkan kepergian sang ayah seperti memikirkan bahwa ayahnya takkan pernah kembali. Namun Nila meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Keyakinan yang cukup kuat tersebut lumayan untuk mengobati rasa khawatirnya dan semakin lama kelopak mata Nila semakin berat dan akhirnya ia menutup mata.
Pagi hari suasana rumah cukup ramai dengan kesibukan ibu menyiapkan peralatan keberangkatan ayah. Setelah selesai, ayah pamit ‘’Bu, Nila, ayah pergi dulu ya?’’ serasa mencium pipi ibu lalu mengecup kening Nila. Seketika perasaan aneh menyertai Nila kembali, ia merasakan bahwa itu adalah kecupan terakhir dari ayahnya, tapi Nila tetap menjaga detak jantungnya yang berdebar cepat dengan berkata dalam hati bahwa itu hanya perasaan yang timbul ketika seorang anak tak biasa ditinggal orang tuanya. ‘’Hati-hati dan cepat kembali,yah!’’ kata ibu yang ditiru juga oleh Nila. ‘’Ayah akan segera kembali apapun keadaannya’’ jawab ayah lalu naik mobil sambil melambaikan tangan dan pergi. Menyisakan tatapan kosong jalanan perumahan yang sepi.
‘’Hei! Sambil menepuk pundak Nila dari belakang. Nila tersentak tapi tetap dalam pandangan kosong. “Aku gak enak badan’’seraya menutup wajah dengan tangannya. ‘’Masih belum terbiasa dengan kepergian ayahmu seminggu lalu?’’. ‘’Ya, begitulah’’.
Kkrriiinggg…bunyi telepon memecah kesunyian rumah Nila. ‘’Halo selamat siang’’ sapa ibu dengan ramah. ‘’Halo selamat siang, ini dari pusat migrasi, maaf kami harus memberikan kabar buruk tentang suami anda’’ jawab penelpon. ‘’Ada apa?’’tanya ibu yang jantungnya mulai berdetak cepat. “Semalam ada kejadian perampokan dan pembunuhan di salah satu wilayah di India, suami anda adalah korbannya dan sekarang jasad beliau telah diterbangkan dari India menuju Indonesia akan sampai pukul 7 besok pagi’’. Ibu langsung berlutut dilantai, ototnya terasa lemah seperti tersambar listrik jutaan megawatt. Saat itu Nila kebetulan membuka pintu langsung berlari menuju sang ibu yang menangis.”Ada apa, bu?’’. “Ayahmu nak...ayahmu sudah tiada!’’jawab ibu sambil menangis. “Apa?Tidak mungkin!’’ Nila menangis sejadi jadinya, suara tangisnya memenuhi ruangan.
Langit mendung mewarnai duka di pemakaman ayah Nila, dipenuhi pula peziarah yang mengantarkan ayah menuju pemakaman. Nila menangis bersama ibunya disamping makam ayahnya. “Sabar Neli!’’hibur seorang pria disamping ibu. Ibunya hanya mengangguk lesu. “Saya akan menemanimu kapanpun yang kamu mau, saya juga akan mengantarkanmu pulang’’ kata pria itu. Pria itu lalu mengantarkan ibu dan Nila ke rumah. Tanpa basa-basi Nila langsung masuk ke kamarnya. Lelaki itu adalah Tama, teman Neli semasa sekolah dulu. “Siapa nama anakmu?” tanya Tama dengan tatapan menyelidik. “Nila”. “Ada yang aneh dengan namanya” kata pria itu mempengaruhi pikiran ibu Nila yang sedang depresi. Neli hanya membalas dengan tatapan heran. “Ya, Nila adalah gabungan warna biru dan merah dari oktaf warna sehingga memunculkan nila, gradasi warna biru ke ungu pada spektrum warna, warna tidak jelas yang mengandung unsur negatif disekitarnya, unsur pembawa malapetaka bagi jiwa-jiwa tak bersalah, tentu hal negatif ini tidak harus terjadi lagi, dengan kata lain dapat dicegah”. Dalam jiwa yang terguncang, sang ibu nampaknya masuk ke lubang hitam hasutan temannya. “Apa yang harus aku lakukan?” tanya ibu. “Nikahi aku, aku akan membantu membuang aura negatif anakmu, aura ku cukup kuat untuk menyeimbangkan warna anakmu Nila’’. Cinta lama yang bersemi kembali, dalam kekosongan relung hati, ibu setuju dengan permintaan pria ini.
Perilaku Nila berubah 180 derajat sejak kematian ayahnya. Dia yang dikenal periang kini menjadi pemurung, prestasinya yang cemerlang kini perlahan-lahan meredup. Nila berubah bukan hanya karena kematian ayahnya saja, tapi juga dipicu oleh kedekatan ibunya dengan pria yang bernama Tama, sejak itu ibunya menjadi temperament. Bahkan penderitaan Nila berlipat ganda karena akhir bulan sang ibu akan menikah. Berkali kali Suci menghibur Nila setiap bertemu, tapi usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Setiap kali Suci menasehati Nila, Nila hanya merespon dengan jawaban singkat yang menyatakan dirinya baik-baik saja. Meskipun terus-menerus gagal tapi Suci tidak menyerah karena Suci yakin Nila sangat membutuhkannya dan Suci percaya suatu saat nanti Nila pasti akan luluh hatinya.
Suatu malam yang sepi dengan suasana kamar redup yang hanya disinari cahaya rembulan, Nila duduk didepan cermin rias dikamarnya. Dia menatap tatapan kosong bayangannya dan menangis. Perlahan-lahan Nila berkata pada bayangan cerminnya “Mengapa kenyataan ini terjadi padaku? Mengapa ibu kian hari kian menjauh? Hidupku seperti tak ada artinya. Andaikan kau yang didepanku adalah nyata, mungkin hanya kau lah yang mampu memahami rasa sakit ini, kau-lah teman terbaik yang tak pernah tertawa saat aku menangis’’. Tiba-tiba Nila ingat buku yang pernah dibacanya saat di perpustakaan, berjudul doppelganger. Nila memejamkan mata dan berusaha fokus dalam redupnya cahaya bulan. “Setiap manusia memiliki sisi lain, sisi yang selalu menyertai yang dibatasi dimensi, Aku yakin aku mampu menghapus dimensi ini’’. Lalu Nila membuka mata “Aku yakin yang ku jumpai bukan hanya bayangan, tapi kenyataan. Kenyataan yang akan menyertaiku adalah aku.’’ Perlahan-lahan muncul banyangan tipis disamping Nila. Nila melanjutkan kata-katanya “Bayanganku adalah temanku.’’ Anehnya Nila sama sekali tidak takut dengan kemunculan bayangan disampingnya, bahkan Nila tersenyum bahagia untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya. Bayangan itu tersenyum ‘’Kita adalah satu, satu kenyataan yang berbeda dimensi ruang, aku akan selalu bersamamu, aku akan muncul dalam ketakutan dan kebencian, aku akan membantumu untuk melawan ketakutanmu dan aku akan menjadi kenyataanmu, akulah Nila.’’ Seraya berkata bayangan itu menatap Nila dengan tajam, tersenyum dan akhirnya menghilang. Nila tampak puas dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Akhirnya tiba pernikahan Neli dan Tama. Nila tidak diizinkan untuk keluar dari kamarnya dalam acara pernikahan tersebut karena keluarga itu menganggap Nila berbahaya. Dalam kesendirian Nila, bayangan itu muncul “Izinkan aku mengambil alih tubuh ini”, “Ya!”. Nila menggedor pintu kamar dengan keras, mengalihkan perhatian semua orang dipesta. Ibu Nila menuju ke kamar Nila seraya menutup pintu. Di dalam kamar rambut panjang Nila ditarik “Jangan membuatku malu!”. Tiba-tiba tangan Nila melayang menampar wajah ibunya, Dia berlari ke luar, mengamuk dan berteriak dalam pesta serta menjatuhkan piring-piring makanan. Tama segera bertindak lalu menyeret Nila ke belakang, ke sebuah ruang gelap di belakang rumah. Nila dipukul hingga pingsan dan tergeletak dalam gudang. Setengah hari berlalu dan Nila pun tersadar, ia merasakan sakit disekujur tubuhnya tapi tak menyadari apa yang telah dilakukan. Langkah kasar terdengar dibalik pintu kayu gudang dan pintu terbuka. Tiba-tiba Nila diseret oleh ayahnya yang baru menuju dapur rumah. “Bersyukurlah aku masih memberimu kesempatan untuk hidup, sekarang cuci semua piring ini dan selesaikan pekerjaan rumah lainnya dan sebelum malam makanan sudah harus tersaji di meja”. “Baik!” jawab Nila dengan nada yang patuh.
Langit kelabu pagi menemani Nila menuju sekolah. Nila tak mengerti dengan apa yang dilakukannya kemarin hingga keluarga sangat marah kepadanya. “Selamat pagi nona kesepian!” sapa mawar dengan nada mengejek. Tiba-tiba sensasi itu terjadi, peralihan jiwa. “Dasar bodoh!” gertak Nila. “Kamu lebih bodoh!’’ Mawar dan teman tertawa dan meninggalkan Nila. Didalam kelas Suci duduk disebelah Nila. Peralihan jiwa terjadi lagi bahkan Nila tampak semakin pucat. Nila menceritakan peristiwa yang dialaminya semalam sampai peristiwa hilang kesadaran yang tidak ia mengerti. “Apa mungkin ini doppelganger?” tanya Nila. “Aku tak mampu menjelaskan apa yang terjadi padamu, beri aku waktu untuk menjawabnya” jawab Suci yang mengakhiri pembicaraan. Bel istirahat berbunyi, Nila duduk sendirian dikantin. Mawar duduk di depannya dan mengejek “Nona besar yang sekarang menjadi gelandangan, cahaya yang telah hilang ditelan kegelapan”. Dalam keadaan marah Nila hilang kesadaran, hilangnya kesadaran ini akibat peralihan jiwa yang dilakukan oleh doppelganger-nya. Mawar disiram dengan segelas minuman, mawar ditampar dan oleh Nila. Suasana kantin seketika menjadi ramai. Suci melihat peristiwa itu lalu memanggil guru untuk melerai mereka. Suci menahan Nila lalu membawanya ke kantor. “Apa yang kalian lakukan? Dasar siswa tak tau etika!” bentak pak Joko selaku kepala sekolah. “Nila menyerangku dulu,Pak!” jawab mawar membela diri. “Maaf pak saya tak sadar bahkan tidak tau apa yang saya lakukan”. “Bagaimana mungkin kamu tidak tau apa yang kamu lakukan?” Bentak pak Joko. “Selesai jam pelajaran kalian berdua harus menyapu lapangan sekolah sebagai pertanggung jawaban atas perbuatan kalian” kata pak joko mengakhiri pembicaraan. Siang hari bersinar terik, Suci mengintip Nila yang sedang menyapu dari jendela perpustakaan sambil memahami buku yang berjudul doppelganger yang sebelumnya dibaca oleh Nila. Suci memahami buku itu sampai bagian akhir babnya yang berjudul menghentikan doppelganger.
Keesokan harinya seperti biasa disekolah, Suci dengan ramah menyapa Nila yang wajahnya tampak pucat. Suci tahu bahwa wajah pucat Nila diakibatkan oleh energi negatif bayangannya. “Nila, tanganmu memar?” tanya Suci. “Iya, kemarin aku dipukul ibu karena terlambat menyiapkan makan malam”. Suci memeluk Nila dan menitikkan air mata di ujung matanya. “Sabar ya sayang, semua pasti akan berakhir”. Nila yang tadinya pucat mulai bergairah “Semua akan berakhir malam ini, tidak akan ada lagi penderitaan dan siksaan. Nyata akan menjadi bayangan, bayangan adalah nyata. Akulah kenyataan didunia” kata Nila. Suci melepaskan pelukan Nila, Nila menatapnya dengan tajam seperti tatapan iblis dengan nafsu membunuh. “Apa yang akan kamu lakukan malam ini?” tanya Suci. “Menjadi kenyataan” senyum sinis tak simetris menghiasi wajah Nila yang bersemangat seraya meninggalkan Suci. “Sepertinya energi yang mengambil jiwa Nila telah melebihi batas, bahkan bayangan itu berusaha untuk mengambil raga Nila dan menjadi nyata didunia. Apa yang akan dilakukan Nila malam ini?” tanya Suci dalam hati. “Aku harus segera bertindak!” tekad Suci dalam hati.
Senja adalah rutinitas Nila menyiapkan makan malam. Agak berbedadimasakannya Nila menambahkan obat bius dengan dosis tinggi pada makanan yang akan disajikan. Pukul tujuh malam, Suci berhasil menyelinap sampai teras rumah Nila, Dia berkeliling dan mengintai rumah tersebut. Suci melihat ibu Nila dan suaminya yang baru, duduk dimeja makan tanpa adanya Nila. Lima menit berlalu Suci mengamati mereka yang sedang makan, sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ayah dan ibu hendak berdiri, tiba-tiba mereka limbung dan jatuh menghantam lantai tak sadarkan diri. Dari dalam kamar berpintu kelabu, muncul sesosok perempuan yang tak lain adalah Nila. Seperti dirasuki, dengan kejam Nila mencengkram rambut korbannya satu per satu dan menyeret masuk menuju pintu kelabu. Seketika mata Suci membelalak dan tak percaya dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Suci segera berlari dan mencari jendela yang dapat melihat pemandangan di balik pintu kelabu itu, ternyata itu kamar pribadi Nila. Nila mengikat paksa korbannya yang tak sadarkan diri. Selesai mengikat korbannya, Nila menyiram keduanya dengan air yang telah disiapkannya. Seketika mereka sadar melihat seorang gadis duduk didepan mereka sambil memegang pisau dan tertawa. Terdengar teriakan tertahan karena bekapan dimulut mereka. “Seharusnya ini tidak terjadi, tapi kalianlah yang memulainya, aku akan mengirim kalian ke neraka, tentunya kalian akan kusiksa dulu’’ teriak Nila diikiuti oleh tawanya yang memecah kesunyian malam. Nila mulai menggoreskan pisau ke lengan ayahnya. Ayahnya mengerang kesakitan dan ketakutan diwajahnya, irisan itu mulai dibentuk dengan tulisan “IBLIS” dimulai lengan kanan dan kiri. Kini tangan Nila merayap ke bagian dada dan membuka baju ayahnya. Digoreskan tulisan yang sama di dada sang ayah. Melihat pemandangan ini, Suci gemetar menggunakan handphone untuk menelpon 110, dengan suara menangis, ia meminta bantuan diseberang “Segera kirim polisi dan ambulance di perumahan asri, gunung sari indah nomor 8 blok C, tolong segera ini darurat”. Suci kemudian masuk ke rumah Nila yang tidak terkunci. “Hentikan setan! Kembalikan Nila!” bentak Suci. Dengan penuh nafsu Nila menyerang Suci. Suci terdesak dengan posisi terlentang dibawah dan Nila berada di atasnya dengan posisi siap membunuh. Tangan Suci menahan tangan Nila yang memegang pisau dengan keras. “Nila, fokuslah, buanglah pikiran jahatmu, yakinlah pada dirimu, kamu Nila, ingatlah aku, ingatlah orang tuamu, ingatlah dirimu!”bentak Suci yang mencoba mengingat tulisan seperti buku yang dibacanya untuk mematahkan doppelganger. “Tidak! Aku tidak boleh membunuh sahabatku, kau membuatku gila”. “Dia bukan sahabat!dia penghalang menuju kebahagiaan! Malam ini tidak ada yang boleh menghalangi, aku harus menjadi nyata!”. Nila bertengkar pada batinnya sendiri dalam keadaan setengah sadar terjadi pergantian jiwa secara terus menerus. “Itu tidak akan terjadi, ini harus berakhir!”. Arah pisau Nila menembus perutnya sendiri, dalam keadaan lepas dari pengaruh doppelgangernya Nila meminta maaf pada dengan suara menahan perih. Suara ambulance dan mobil polisi telah tiba dan segera mengevakuasi keadaan.
Nila dan ayahnya dibawa ke UGD karena kehilangan banyak darah. Derai airmata membasahi wajah ibu dan Suci. Nila berada dalam masa kritis. Saat itu jiwa Nila berada di dunia-antara, merasakan ilusi kembali ke masa lalunya yang bahagia, dalam imajinasinya Suci memanggil Nila dikejauhan “Nila, ayo kembali”. Suci memegang tangan Nila, seketika latar berubah menjadi gelap dan perlahan cahaya lampu mengisi pupil Nila. “Maafkan ibu nak, seharusnya semua ini tidak terjadi kalau…”. “Ssstt…” Nila menempelkan jari tangannya yang bergetar ke mulut ibunya, “Sudah Bu, semua telah berakhir, aku seutuhnya telah kembali, bayangan yang mengikutiku tidak akan pernah kubiarkan muncul, dia sudah sirna dalam gelap” bisik Nila. Ibunya bingung dan tetap menangis. Disamping kanan ada Suci yang tersenyum pada Nila, Nila membalas dengan senyuman tulus dan bahagia. “Nila adalah Nila yang baik, Tuhan besertamu Nila” bisik Suci. “Terima kasih Suci”. Dalam hati Nila bersyukur atas kehidupan yang masih diberikan Tuhan kepadanya “Terima kasih telah mewarnai hariku ya Tuhan’’…
THE END
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar